Pages

Sep 28, 2010

Muliakanlah Ibumu


Untuk yang kesekian kalinya hari ini seorang Ibu tua melintas di depan saya di sebuah supermarket besar di kota ini. Seorang Ibu yang berumur 70an berbelanja seorang diri dan menggunakan mobility scooter sebagai alat bantunya berjalan. Ketika ibu itu hendak membayar belanjaannya di kasir dia mengeluarkan sebuah kartu. Si kasirpun memintanya menekan nomor pin kartu tersebut, sayangnya nomor pin yang dipencet salah sehingga dia harus mengulanginya lagi dan wajah si ibu tua itu terlihat bingung ketika nomor pin yang dia tekan salah lagi. Sekilas saya melihat si kasir tidak sabar melayani ibu tua ini dan ibu tua ini terlihat bingung sendiri.

Kejadian di atas bukan kejadian yang pertama kali saya lihat, dimana orang tua yang sudah lanjut usia wara-wiri di jalan dengan mobility scooternya dan pemandangan itu sudah menjadi pemandangan yang umum di sini. Ada rasa miris dan kasihan di hati melihat pemandangan itu. Anak manakah yang tega membiarkan orang tuanya ke luar rumah sendiri? Pergi dan belanja seorang diri? Apakah memang seperti ini budaya di sini ataukah ada alasan lain? Pertanyaan itu selalu menari dalam pikiran saya.

Di lain waktu ketika sedang break perkuliahan, saya menemukan pandangan dari sisi lain tentang seorang ibu. Dosen saya yang berasal dari New Zealand menceritakan tentang ibunya. Dosen saya mengatakan dia sangat ingin memelihara ibunya yang sudah tua dan memintanya tinggal bersama dia, Namun ibu dari dosen saya menolak dengan alasan ingin lebih mandiri, bebas dan tidak ingin mengganggu kehidupan anaknya. Akhirnya, ibu dosen saya memutuskan untuk tinggal di nursing home.

Jika seorang ibu memang tidak mau tinggal dengan anak-anaknya maka si anak terlepas dari tindakan menyia-nyiakan orang tuanya dengan kondisi: si anak tetap menjenguk ibunya di nursing home dan tetap memenuhi kewajibannya secara moril dan materil karena sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban seorang anak. Sebagaimana firman Allah swt:

Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu membentak keduanya. Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih saying dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah mereka keduanya sebagaimana keduanya telah menyayangi aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 23-24)

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua menduduki peringkat kedua setelah mentauhidkan (meng-Esakan) Allah swt. Khususnya berbakti kepada ibu yang telah mengandung kita selama kurang lebih sembilan bulan serta membesarkan kita dengan penuh perjuangan. Maka, pantaskah kiranya jika seorang anak menelantarkan ibunya seorang diri?

Jika diingat lagi masa-masa seorang anak dilahirkan ke bumi ini maka akan terucaplah sebuah do’a yang tulus dari kedua orang tua agar si anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Serta sebuah do’a dan harapan yang juga diberikan oleh sanak saudara dan kerabat yang menginginkan kita menjadi anak kebanggaan orang tua, tunas harapan orang tua di masa tua dan membahagiakan mereka di hari tua. Sebagaimana Allah swt berfirman:

"Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun; (dengan yang demikian) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapamu; dan (ingatlah), kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima balasan)" (QS. Luqman:14)

Dengan demikian, jika ingin mendapatkan surga Allah swt dan jika ingin mendapatkan kebajikan maka harus mendahulukan ama-amal yang paling utama di antaranya birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Dan jika orang tua kita sudah meninggal dunia, maka do’akan lah mereka karena do’a anak yang sholeh dan sholehah akan menjadi jembatan bagi orang tua menuju surga Allah swt, sebagaimana Rasulullah saw bersabda, “Apabila seorang anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga hal,(yaitu) Shadaqah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan Anak saleh yang mendoakannya.” (HR.Muslim)

Note:
Dalam hal ini yanti belum berhasil mengambil foto seorang Ibu/Orang tua lansia yang memakai moblity scooter karena orang-orang di sini sangat sensitif jika di foto. Jika mereka tau kita mengambil foto mereka tanpa ijin, bisa-bisa kita dimarahi/dikenai protes. Namun ynt menemukan sebuah foto di internet, seorang Ibu tua dengan mobility scooternya yang mirip dengan yang umumnya ynt lihat di sini, jadi setidaknya teman-teman yang membaca bisa tau gambarannya seperti apa.

Untuk yang kesekian kalinya hari ini seorang Ibu tua melintas di depan saya di sebuah supermarket besar di kota ini. Seorang Ibu yang berumur 70an berbelanja seorang diri dan menggunakan mobility scooter sebagai alat bantunya berjalan. Ketika ibu itu hendak membayar belanjaannya di kasir dia mengeluarkan sebuah kartu. Si kasirpun memintanya menekan nomor pin kartu tersebut, sayangnya nomor pin yang dipencet salah sehingga dia harus mengulanginya lagi dan wajah si ibu tua itu terlihat bingung ketika nomor pin yang dia tekan salah lagi. Sekilas saya melihat si kasir tidak sabar melayani ibu tua ini dan ibu tua ini terlihat bingung sendiri.

Kejadian di atas bukan kejadian yang pertama kali saya lihat, dimana orang tua yang sudah lanjut usia wara-wiri di jalan dengan mobility scooternya dan pemandangan itu sudah menjadi pemandangan yang umum di sini. Ada rasa miris dan kasihan di hati melihat pemandangan itu. Anak manakah yang tega membiarkan orang tuanya ke luar rumah sendiri? Pergi dan belanja seorang diri? Apakah memang seperti ini budaya di sini ataukah ada alasan lain? Pertanyaan itu selalu menari dalam pikiran saya.

Di lain waktu ketika sedang break perkuliahan, saya menemukan pandangan dari sisi lain tentang seorang ibu. Dosen saya yang berasal dari New Zealand menceritakan tentang ibunya. Dosen saya mengatakan dia sangat ingin memelihara ibunya yang sudah tua dan memintanya tinggal bersama dia, Namun ibu dari dosen saya menolak dengan alasan ingin lebih mandiri, bebas dan tidak ingin mengganggu kehidupan anaknya. Akhirnya, ibu dosen saya memutuskan untuk tinggal di nursing home.

Jika seorang ibu memang tidak mau tinggal dengan anak-anaknya maka si anak terlepas dari tindakan menyia-nyiakan orang tuanya dengan kondisi: si anak tetap menjenguk ibunya di nursing home dan tetap memenuhi kewajibannya secara moril dan materil karena sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban seorang anak. Sebagaimana firman Allah swt:

Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu membentak keduanya. Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih saying dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah mereka keduanya sebagaimana keduanya telah menyayangi aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 23-24)

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua menduduki peringkat kedua setelah mentauhidkan (meng-Esakan) Allah swt. Khususnya berbakti kepada ibu yang telah mengandung kita selama kurang lebih sembilan bulan serta membesarkan kita dengan penuh perjuangan. Maka, pantaskah kiranya jika seorang anak menelantarkan ibunya seorang diri?

Jika diingat lagi masa-masa seorang anak dilahirkan ke bumi ini maka akan terucaplah sebuah do’a yang tulus dari kedua orang tua agar si anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Serta sebuah do’a dan harapan yang juga diberikan oleh sanak saudara dan kerabat yang menginginkan kita menjadi anak kebanggaan orang tua, tunas harapan orang tua di masa tua dan membahagiakan mereka di hari tua. Sebagaimana Allah swt berfirman:

"Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun; (dengan yang demikian) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapamu; dan (ingatlah), kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima balasan)" (QS. Luqman:14)

Dengan demikian, jika ingin mendapatkan surga Allah swt dan jika ingin mendapatkan kebajikan maka harus mendahulukan ama-amal yang paling utama di antaranya birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Dan jika orang tua kita sudah meninggal dunia, maka do’akan lah mereka karena do’a anak yang sholeh dan sholehah akan menjadi jembatan bagi orang tua menuju surga Allah swt, sebagaimana Rasulullah saw bersabda, “Apabila seorang anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali karena tiga hal,(yaitu) Shadaqah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan Anak saleh yang mendoakannya.” (HR.Muslim)

Note:
Dalam hal ini yanti belum berhasil mengambil foto seorang Ibu/Orang tua lansia yang memakai moblity scooter karena orang-orang di sini sangat sensitif jika di foto. Jika mereka tau kita mengambil foto mereka tanpa ijin, bisa-bisa kita dimarahi/dikenai protes. Namun ynt menemukan sebuah foto di internet, seorang Ibu tua dengan mobility scooternya yang mirip dengan yang umumnya ynt lihat di sini, jadi setidaknya teman-teman yang membaca bisa tau gambarannya seperti apa.

No comments: