Pages

Sep 9, 2010

Telaga Ramadhan


Rasulullah SAW. berkata, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)

Selama satu bulan penuh umat Islam menjalankan ibadah shaum (puasa) Ramadhan, menahan hawa nafsu dari haus dan lapar. Namun dibalik itu semua, shaum Ramadhan tidak hanya menahan haus dan lapar saja tapi juga menahan nafsu dari perbuatan yang mungkar, yang tidak diridhoi Allah SWT sehingga mengurangi dan menggugurkan nilai puasa. Rasulullah SAW. bersabda, “Bukanlah (hakikat) puasa itu sekadar meninggalkan makan dan minum, melainkan meninggalkan perbuatan sia-sia dan kata-kata bohong.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).

Ibadah shaum di bulan Ramadhan juga menjadi sebuah tantangan bagi umat Islam dalam mempertahankan keimanannya, menunjukkan ketaatannya kepada Sang Khalik dan juga tantangan bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah-ibadah sunnahnya. Apa lagi bagi umat Islam yang pertama kali menjalani ibadah shaum Ramadhan di negara non-Muslim seperti Australia dan negara-negara non-Muslim lainnya, mempertahankan ibadah shaum menjadi sebuah tantangan tersendiri. Namun bagi umat Islam yang ikhlas dan sabar akan menjalani ibadah ini dengan sebaik-baiknya karena bekal iman yang kuat dalam diri merekalah yang menjadi pondasi keikhlasan dan kesabaran itu.

Pahala dan balasan Allah swt. bagi orang-orang yang berpuasa adalah besar dan tiada terhitung. Salah satu janji Allah SWT. adalah tersedianya pintu surga Ar-Rayan yang tersedia khusus untuk orang-orang yang berpuasa. Selain itu, bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan ampunan. Ditambah lagi keistimewaan bulan Ramadhan lainnya adalah adanya malam Lailatul Qadar, malam yang penuh berkah dan pahala ibadahnya sama dengan ibadah seribu bulan. Rasulullah SAW. menyuruh kita mencari malam Lailatul Qadar ini di malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan karena Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu dan menghidupkan ibadah-ibadah sunnah yang mana pahalanya sama dengan ibadah wajib. Oleh karena itu, perbanyaklah ibadah dan taubat karena pintau taubat dan ampunan terbuka lebar bagi hamba-hambaNya.

Bagaikan sebuah telaga di padang pasir yang tandus, bulan Ramadhan ibarat pelepas dahaga dalam kekeringan. Telaga yang yang menyejukkan hati dan jiwa yang kering, telaga tempat pensucian diri di tengah hiruk pikuk perkara dunia yang mengeringkan iman, mensucikan diri dari daki-daki dosa dan telaga Ramadhan menjadi telaga Maghfirah (ampunan) bagi hamba-hambaNya yang bertakwa.

Walaupun telaga Ramadhan telah berlalu namun wanginya akan tetap semerbak dalam hati. Latihan menahan hawa nafsu selama satu bulan harus bisa menjadikan kita generasi Muslim yang makin bertaqwa kepada Allah SWT dan kita kembali ke fitrah. Dan terakhir ijinkan saya mengucapkan: Selamat Hari Raya ‘Idul Fitri 1431 H, Taqabbalallaahu Minna wa Minkum wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin wal Faizin” yang artinya semoga Allah swt. menerima amalan-amalan yang telah saya dan anda kerjakan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah dan orang-orang yang mendapatkan kemenangan”. Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan yang akan datang. Amiin.

Rasulullah SAW. berkata, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)

Selama satu bulan penuh umat Islam menjalankan ibadah shaum (puasa) Ramadhan, menahan hawa nafsu dari haus dan lapar. Namun dibalik itu semua, shaum Ramadhan tidak hanya menahan haus dan lapar saja tapi juga menahan nafsu dari perbuatan yang mungkar, yang tidak diridhoi Allah SWT sehingga mengurangi dan menggugurkan nilai puasa. Rasulullah SAW. bersabda, “Bukanlah (hakikat) puasa itu sekadar meninggalkan makan dan minum, melainkan meninggalkan perbuatan sia-sia dan kata-kata bohong.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).

Ibadah shaum di bulan Ramadhan juga menjadi sebuah tantangan bagi umat Islam dalam mempertahankan keimanannya, menunjukkan ketaatannya kepada Sang Khalik dan juga tantangan bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah-ibadah sunnahnya. Apa lagi bagi umat Islam yang pertama kali menjalani ibadah shaum Ramadhan di negara non-Muslim seperti Australia dan negara-negara non-Muslim lainnya, mempertahankan ibadah shaum menjadi sebuah tantangan tersendiri. Namun bagi umat Islam yang ikhlas dan sabar akan menjalani ibadah ini dengan sebaik-baiknya karena bekal iman yang kuat dalam diri merekalah yang menjadi pondasi keikhlasan dan kesabaran itu.

Pahala dan balasan Allah swt. bagi orang-orang yang berpuasa adalah besar dan tiada terhitung. Salah satu janji Allah SWT. adalah tersedianya pintu surga Ar-Rayan yang tersedia khusus untuk orang-orang yang berpuasa. Selain itu, bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan ampunan. Ditambah lagi keistimewaan bulan Ramadhan lainnya adalah adanya malam Lailatul Qadar, malam yang penuh berkah dan pahala ibadahnya sama dengan ibadah seribu bulan. Rasulullah SAW. menyuruh kita mencari malam Lailatul Qadar ini di malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan karena Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu dan menghidupkan ibadah-ibadah sunnah yang mana pahalanya sama dengan ibadah wajib. Oleh karena itu, perbanyaklah ibadah dan taubat karena pintau taubat dan ampunan terbuka lebar bagi hamba-hambaNya.

Bagaikan sebuah telaga di padang pasir yang tandus, bulan Ramadhan ibarat pelepas dahaga dalam kekeringan. Telaga yang yang menyejukkan hati dan jiwa yang kering, telaga tempat pensucian diri di tengah hiruk pikuk perkara dunia yang mengeringkan iman, mensucikan diri dari daki-daki dosa dan telaga Ramadhan menjadi telaga Maghfirah (ampunan) bagi hamba-hambaNya yang bertakwa.

Walaupun telaga Ramadhan telah berlalu namun wanginya akan tetap semerbak dalam hati. Latihan menahan hawa nafsu selama satu bulan harus bisa menjadikan kita generasi Muslim yang makin bertaqwa kepada Allah SWT dan kita kembali ke fitrah. Dan terakhir ijinkan saya mengucapkan: Selamat Hari Raya ‘Idul Fitri 1431 H, Taqabbalallaahu Minna wa Minkum wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin wal Faizin” yang artinya semoga Allah swt. menerima amalan-amalan yang telah saya dan anda kerjakan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah dan orang-orang yang mendapatkan kemenangan”. Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan yang akan datang. Amiin.

2 comments:

Zinnirah Abrar said...

insyaAllah, marilah sama2 kita menghayati erti sebenar menyambut aidilfitri..
bukan hanya menyambut dgn baju baru dan makanan yg enak2...tetapi menyambut kejayaan kita kembali kpd fitrah sbg seorang hamba Allah yg taat melakukan ibadah serta berbakti kpdNya insyaAllah..
jazakillahu khair ukhti..=)

Rahma Yanti said...

Insya Allah.. ;)